Memonews.id, Kota Batu – Masyarakat Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu kembali menghidupkan tradisi leluhur “Atur Pisungsung” sebagai bagian dari rangkaian Selamatan Desa atau Merti Bumi. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus penguat nilai kebersamaan warga, Sabtu (27/06/2026).

Dalam kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Batu, Nurochman, SH, MH, dan Wakil Wali Kota Batu, heli Suyanto, SH, MH., Camat Bumiaji Thomas Maydo, S.Sos dan para tamu undangan.

Ribuan warga dari lima dusun di Tulungrejo mengarak hasil panen setahun ke Balai Desa. Mulai beras, jagung, kedelai, sayur, hingga buah-buahan diarak dengan khidmat untuk diserahkan sebagai persembahan.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menegaskan ada aturan sakral yang tidak boleh dilanggar dalam prosesi ini.

“Ada aturan sakral yang dijaga yaitu seluruh hasil bumi yang dipersembahkan harus benar-benar panen warga sendiri, tidak boleh dibeli dari luar desa. Nantinya, semua hasil bumi tersebut akan diolah dan dibagikan kembali kepada seluruh warga sebagai sedekah bersama,” ujar Suliono.

Ia menyebut tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan. “Kegiatan ini adalah wujud rasa syukur sekaligus harapan agar masyarakat selalu sehat dan sejahtera. Ini juga bagian dari melestarikan warisan budaya leluhur yang tidak boleh hilang,” lanjutnya.

Dari Persembahan ke Kenduri Bersama
Puncak acara ditandai dengan penyerahan hasil bumi secara bergiliran kepada Kepala Desa sebagai perwakilan masyarakat. Setelah itu, seluruh hasil panen diolah oleh kelompok wanita desa dan Karang Taruna.

Hidangan khas Jawa seperti nasi liwet, gudeg, opor ayam, sambal goreng krecek, hingga kue tradisional disajikan untuk dinikmati bersama seluruh warga tanpa membedakan status sosial.

Bagi warga Tulungrejo, Atur Pisungsung menyimpan makna mendalam. Tradisi ini menjadi cermin keikhlasan, penghormatan pada alam, dan harapan keberkahan rezeki yang merata. Nilai itu juga ditanamkan kepada generasi muda agar tetap mengenal identitas budaya desa.

Rangkaian Awal Bulan Suro Tradisi Atur Pisungsung rutin digelar menjelang awal bulan Suro dalam kalender Jawa. Pelaksanaannya berbarengan dengan kegiatan budaya lain seperti pemasangan tarub, pembuatan jenang suro, dan cok bakal sebagai simbol doa kemakmuran dan kelancaran.

Di tengah arus modernisasi, Tulungrejo memilih tetap menjaga tradisi ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.(*).

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *