Memonews.id, Kota Batu  –  Dalam melestarikan dan mempertahankan kebudayaan jawa (Uri – uri Budaya) dengan kearifan lokal seluruh masyarakat. Desa Tulungrejo menggelar kegiatan njenang bareng yang di ikuti dari 18 RW, dengan menghabiskan bahan sebanyak 4 ton.

Acara Merti Bumi Tulungrejo dimeriahkan pula dengan pentas seni tradisional dari seluruh dusun di wilayah Desa Tulungrejo. Acara di gelar di lapangan Dusu Njunggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Sabtu (26/7/2025).



Kegiatan Njenang Bareng dan Pentas Seni di Desa Tulungrejo ini mengambil tema “Tulus Wigati Trustha ing Widhi” yang berarti frasa yang dalam bahasa Jawa memiliki makna yang mendalam. Berikut adalah arti dari setiap kata:

1. “Tulus” berarti “sungguh-sungguh” atau “tulus hati”.
2. “Wigati” berarti “penting” atau “berarti”.
3. “Trustha” berarti “percaya” atau “iman”.
4. “ing Widhi” berarti “kepada Tuhan” atau “kepada Yang Maha Kuasa”.
Jadi, frasa “Tulus Wigati Trustha ing Widhi” dapat diartikan ( Dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh, kita percaya dan berserah diri kepada Tuhan) atau Percayalah dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan dan frasa ini menggambarkan sikap spiritual yang mendalam, yaitu percaya dan berserah diri kepada Tuhan dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh.

Turut hadir dalam acara ini, Kepala Desa Tulungrejo, Semua Kepala Dusun Desa Tulungrejo, ikut hadir Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Khamim Tohari anggota legislatif Kota Batu, serta Forkopimda Kota Batu.

Dalam kesempatannya Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, S.H., M.H bersama Ibu Ridha Heli Suyanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Merti Bumi Tulungrejo di Lapangan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo.

Acara yang mengusung tema “Merti Bumi Tulungrejo, Tulus Wigati Trustha ing Widhi” ini digelar dalam suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah bumi serta kehidupan yang terus mengalir bagi masyarakat.

“Ini adalah kekuatan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Tradisi seperti ini bukan hanya layak dipertahankan, tetapi juga harus kita angkat sebagai potensi pariwisata berbasis kearifan lokal. Kami mendorong agar kegiatan Merti Bumi ini masuk dalam kalender wisata Kota Batu,” ujar Heli Suyanto saat turut serta dalam prosesi njenang bareng bersama warga.

Didampingi Ibu Ridha, Wakil Wali Kota juga mencicipi sajian jenang yang secara gotong royong dimasak oleh masing-masing RW selama kurang lebih lima jam.

“Jenang ini, merupakan simbol pemersatu masyarakat dan hasilnya dibagikan kepada seluruh warga desa sebagai bentuk kebersamaan,” tuturnya.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya sebatas ritual budaya, tetapi menjadi ruang strategis untuk memperkuat solidaritas sosial dan mengangkat potensi desa.

“Merti Bumi adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kita ingin agar nilai-nilai luhur ini terus ditanamkan kepada generasi muda, dan di sisi lain dapat menjadi magnet wisata budaya yang menarik,” ujar Suliono.


Lanjut Khamim Tohari anggota legislatif Kota Batu, menyampaikan bahwa tradisi selamatan desa seperti ini diyakini mampu menjadi model pembangunan yang berakar pada nilai-nilai budaya, memperkuat identitas masyarakat, dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata secara berkelanjutan.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya sebagai bagian integral dari pembangunan Kota Batu menuju kota yang berkarakter, berdaya saing dan berkelanjutan. Dan bisa menarik wisatawan lokal maupun mancanegara,” tutupnya. (*).

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *