MemoInfo

PEMILAR Geruduk Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Makassar

Makassar —- Sejumlah mahasiswa tergabung dalam Persatuan Mahasiswa Indonesia Luwu Utara (PEMILAR) geruduk kantor Balai Besar  Sungai Pompengan Jeneberang, Jalan Sekolah guru perawat No. 3 Kota makassar Guna mempertanyakan proses normalisasi dan tanggul permanen yang statusnya belum jelas. Kamis, (26/8/2021)

Aksi mahasiswa itu adalah bentuk keresahan masyarakat terkait tidak adanya program normalisasi atau pengerukan sedimen serta tanggul permanen dalam 7 program hingga tahun 2025 yang di paparkan BBWS PJ saat webminar.

Dalam orasinya Jendral Lapangan Adhy Husain menuding pihak balai dan pemda lutra terkesan menutup diri dalam proses perencanaan recovery Kota Masamba

“Tidak ada sosialisasi sebelum menentukan program tersebut dan seharusnya mereka mempertimbangkan kondisi sungai yang posisinya lebih tinggi dari pemukiman. Ketika banjir Kondisi air itu sudah sejengkal dari jembatan, pihak balai harus berani menggaransikan jembatan itu tidak putus”, Adhy dalam orasinya

“Tanggul urugan batu itu sifatnya darurat (semi permanen) apalagi hanya di tumpuk di atas tumpukan pasir bukan dasar sungai otomatis mudah terjadi erosi apabila debit air sungai meningkat, harusnya BBWS dan pemda lutra mempertimbangkan hal ini dalam perencanaan jangka panjang” lanjut Kabid PDDD Pemilar tersebut.

Di sisi lain Ketua PP Pemilar, Zulkifly Hatta juga mengatakan Pemerintah daerah Kabupaten Luwu Utara tidak serius menangani kota masamba setahun pasca bencana,

“kami menilai pemerintah daerah kabupaten Luwu Utara tidak serius menjalankan program 100 hari kerjanya. terbukti saat Audiens, pihak balai mengatakan pihaknya selalu menunggu kordinasi oleh pemda lutra untuk melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait pembebasaan lahan dan memang itu tanggung jawab pemda lutra. Ungkapanya

Zulkifly berharap Pemda Luwu Utara dan Balai segera berkoordinasi dan berkolaborasi  untuk Luwi Utara Bangkit

“Harusnya dari awal sebelum pekerjaan mulai di lakukan mediasi ke masyarakat, pemda, dan pihak balai agar kejadian yang seperti sekarang tidak terjadi. Yang kita inginkan adalah kaleborasi dengan cara melibatkan semua pihak agar terjadi konsensus sosial didalamnya sehingga benar benar dapat menciptakan luwu utara bangkit yang sesungguhnya.” Tutupnya (Shr)

judul gambar
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

judul gambar

Memo Popular

judul gambar
To Top