MemoEdu

Memopini : Ekspektasi Publik Dibalik Lahirnya Ranperda ‘Sistem Pertanian Organik’ Sulawesi Selatan

Photo: Masluki

Masluki, S.P.,M.P.
(Dosen Fakultas Pertanian UNCP)

Pertanian organik sebagai suatu konsep bertani dengan memanfaatkan bahan yang bersumber dari alam sudah dilakukan sejak dahulu kala, bahkan dibeberapa wilayah masih menjaga sistem pertanian organik sampai saat ini. Misalnya saja petani padi jenis Mantarone dan Mandoti di Kecamatan Seko umumnya belum tersentuh bahan kimia sintetik dikarenakan akses terhadap sarada produksi sulit dan biaya angkut yang besar sampai dilokasi.

Selain itu, beberapa jenis tanaman lokal masih dipertahankan dikarenakan erat kaitannya dengan sosial budaya masyarakat yang masih terjaga. Secara sederhana petani memanfaatkan daur uang limbah jerami untuk pupuk dan menjaga agroekosistem sehingga musuh alami hama dan penyakit tetap seimbang dalam toleransi ambang batas ekonomi.

Input luar rendah dengan memanfaatkan siklus hara dan mata rantai hama penyakit terkendali dengan terjaganya musuh alami dan penerapan sistem pola tanam tumpangsari maupun pergiliran tanaman. Meskipun bertani organik masih dilakukan petani dibeberapa daerah, kendala legalitas sertifikasi sebagai produk organik masih sulit dilakukan dengan banyaknya persyaratan yang membutuhkan tenaga,waktu dan biaya yang cukup besar.

Dampaknya, harga masih disamakan dengan produk anorganik bahkan lebih murah seperti sayur organik dengan penampilan yang kurang menarik karena adanya bekas serangan hama.

Paradigma berpikir tentang pertanian organik yang dianggap sebagai pertanian yang ketinggalan jaman, tidak produktif dan tidak menguntungkan secara ekonomi menjadi tantangan. Bertani organik seolah tidak adanya intervensi teknologi moderen karena hanya mengandalkan siklus materi berjalan secara alami. Pada sisi lain, prilaku bertani masyarakat telah mengalami perubahan drastis selama 40an tahun karena adanya gerakan revolusi hijau tahun 1980an.

Revolusi hijau melalui program intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi pertanian telah meninggalkan banyak persolan. Demi ambisi peningkatan produktivitas, sumberdaya lahan dikelolah secara massif. Kampanye bibit unggul hibrida hasil rekayasa genetika menjadi primadona hingga hilangnya plasma nutfah dan varietas lokal yang lebih adaptif terhadap cekaman biotik dan abiotik habitatnya.

Penggunaan pupuk dan pestisida sintetik telah mendegdasi sumberdaya lahan. Lahan pertanian yang dikelolah secara intensif makin kritis dikarenakan rusaknya sifat fisika,kimia dan biologi tanah dan air. Penggunaan pestisida kimia berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem seperti hilangnya musuh alami, ledakan hama penyakit dan gulma yang makin resiten. Residu senyawa kimia pada hasil panen makin memprihatikan jika dikonsumsi akan berdampak buruk pada kesehatan. Budaya gotong-royong masyarakat makin hilang dengan menonjolnya sifat individual untuk target produksi yang tinggi.

Rachel Carson (1962) dalam bukunya “Silent Spring”/musim semi yang sunyi sebagai penggambaran keresahannya saat tidak ada lagi kicauan burung dan makhluk lainnya saat musim semi karena penggunaan pestisida besar-besaran di Amerika. Carson meneliti dampak obat kimia dalam meningkatkan produksi pertanian,perikanan dan peternakan terhadap lingkungan.

Dia menguraikan kerusakan nyata akibat penggunan pestisida berbahan DDT terhadap hewan air, mikroorganisme tanah dan burung-burung. Dia berkata “Semakin banyak kita meracuni alam, suatu saat alam akan meracuni kita”. Dia percaya bahwa kesehatan manusia merefleksikan lingkungannya. Zaman modern saat ini akan di hancurkan dengan mewabahnya virus ganas saat lingkungan sudah rusak.

Wabah penyakit akan menginvasi manusia karena mereka kehilangan habitat. Gas beracun dan suhu udara yang naik akan membunuh ganggang di laut Pasifik sehingga tiram kehilangan pakan, burung-burung yang memangsanya menjadi sakit. Lalu menularkan virus ke hewan lain ketika bermigrasi. Hewan berpenyakit dikonsumsi manusia maka lahirlah pandemi. Boleh jadi, pandemi covid-19 yang mewabah secara global hingga saat ini bagian dari prediksi Carson tentang masa depan bumi bahwa bukan hanya kicauan burung yang hilang, bahkan suara manusiapun akan semakin sunyi.

Belakangan ini, petani mulai resah dengan persoalan kelangkaan pupuk kimia, pestida yang makin mahal dan produktivitas lahan yang cenderung melandai bahkan mengalami penurunan. Iklim terus mengalami anomali hingga menyulitkan untuk memprediksi cuaca saat musim tanam. Pada sisi lain harga gabah kering panen makin anjlok, sehingga aktivitas bertani makin tidak menguntungkan. Pupuk subsidi untuk tanaman pangan utama seperti padi,jagung dan kedelai tentu menguras pendanaan dari APBN saat pos anggaran lebih banyak dialihkan untuk penanganan pandemi covid-19. Dilain pihak, luas lahan intensif makin bertambah dengan percetakan sawah ribuan hektar sebagai kawasan lumbung pangan nasional.

Pemikiran para guru besar IPB tentang pentingnya Merevolusi Revolusi Hijau sudah saatnya digalakkan. Mengembalikan agroekosistem secara bijaksana dengan teknologi ramah lingkungan bukanlah hal mustahil untuk mencapai produksi dan kualitas hasil pertanian. Sumberdaya yang tersisa dengan pola manajemen pertanaman yang telah diteliti selama bertahun-tahun sudah saatnya menjadi dasar naskah akademik untuk pertanian yang berkelanjutan.

Pertanian organik sebagai salah satu konsep solusi pertanian masa depan dapat diaplikasikan secara bertahap. Dukungan sarana prasarana serta teknologi dapat saja disediakan oleh pemerintah. Sedangkan bahan baku penunjang tersedia dilahan petani masing-masing. Limbah padat, cair dan gas yang bersumber dari kegiatan produksi pertanian,peternakan dan perikanan dapat dikelola menjadi bahan subtitusi pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh kimia yang selama ini tergantung pada perusahaan-perusahaan asing. Benih lokal yang tersisa dapat dikelola untuk menyediakan benih unggul spesifik lokasi secara berkelanjutan.

Lahirnya Ranperda yang digagas oleh Anggota DPRD Prov.Sulawesi Selatan bidang pertanian Drs H. Andi Hatta Marakarma, MP akan menjadi jalan terang bagi pertanian hijau dan lestari. Produksi dan kualitas bahan pangan yang ramah lingkungan akan berdampak langsung terhadap peningkatan indeks kesehatan manusia,  perbaikan agroekosistem, masa depan lingkungan.

Selanjutnya Ranperda “Sistem Pertanian Organik” akan mengalami penyempurnaan atas kerjasama dari para pihak yang terkait. Pada akhirnya dapat ditetapkan sebagai Peraturan Daerah yang disinergikan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota.

judul gambar
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

judul gambar

Memo Popular

judul gambar
To Top